2 keponakan dan budhe yang notabene adalah yangti mereka. Aku belajar dari budhe tentang arti mengikhlaskan..tentang penerimaan kenyataan bahwa akan ada perpisahan yang tak terhindarkan.. Ya. Tentang kepergian. Perpisahan dua dunia. Barzah dan fana.
Di hari Jum'at yang terik, usai solat Jumat anak sulungnya terlibat kecelakaan maut yang merenggut anak sulungnya. Bahkan kecelakaan ini sempat diabadikan di berita buser. Hanya tentu anchor tidak akan melaporkan terkait sesiapa pihak yang ditinggalkan oleh para korban kecelakaan. Sebagai seorang ayah dan suami, alm sepupuku meninggalkan istri yg baru dinikahinya beberapa tahun dan Aqila, putri semata wayangnya yang waktu itu masih menginjak usia sekitaran 4-5 tahun. Sedih rasaya demi melihat anak kecil sudah tak berbapak. Kelurga dari pihak istrinya juga terpukul waktu itu. Apalagi mengingat sepupuku bahkan dianggap menantu terbaik dan yang paling disayangi oleh mertuanya.
Selang beberapa tahun kemudian giliran menantu budhe yang dipanggil oleh Allah. Ya, istri dari anak keduanya. Di saat masih anget-angetnya masa pernikahan. Dan lagi-lagi meninggalkan anak semata wayang, Fatin yang bahkan belum sempat disapih. Umurnya baru menginjak usia sekitar 1 tahun dan baru lucu-lucunya menirukan gaya kiss-bye. Cucu pertama yatim di usia belia dan cucu kedua piatu di usia yang masih batita.
Pelajaran yang bisa kuambil selain bahwa adanya perpisahan dunia itu adalah kemungkinan yang tak terelakkan dan memang harus mengikhlaskan karena pada intinya semua adalah titipan. Kedua, bahwa umur manusia.. Siapa tahu. Jangankan manusia, umur bangunan pun kita juga tidak tahu. Seahlinya para teknikus memprediksi bangunan jika Tuhan berfirman "robohlah" maka dengan mudahnya bangunan tersebut luluh lantah. Pun manusia, bahkan secerdas apapun dokter meprediksikan usia manusia... Kenyataannya tak ada yang bisa memprediksi Kehendak Tuhan.
Dan bahwa keberadaan orangtua itu penting sekali. Orangtua utuh yang jua seutuhnya menemani tumbuh kembang anak, terutama saat mereka memasuki usia golden age. Bersama membentuk kepribadian anak.
Aku cukup belajar banyak hal dari keponakan-keponakanku ini. Bahkan setelah beberapa waktu berselang dari wafatnya sang Ayah waktu itu, Aqila kecil ketika ditanya "Ayahmu di mana?" Ia dengan lugunya menjawab "di surga".
Seketika berkaca. Kau yang sudah menginjak usia dewasa, sudah kau jalankan birrul walidayn pad orangtua yang semakin hari menapaki usia senja? Bagaimanapun keadaannya, sudahkah bersyukur masih memiliki keluarga yang sempurna? Semburat itu mengetuk hatiku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar