Mau sharing cerita.. Jadi kemarin pas hari
kedua lebaran, saya ikut ibuk untuk ujung (silaturrahim) ke tempat saudara yang
kebetulan tengah menderita sakit tua. Dan betapa kagetnya kami saat mengetahui
ruangan tempat beliau berbaring. Sangat kecil, gelap dan pengap, hanya dibatasi
oleh tripleks-tripleks. Sangat kontras dengan kenyataan bahwa ruangan tersebut
berada di dalam rumah yang bisa dikatakan sedikit mewah. Bagaimana tidak, yang
mendiami rumah tersebut adalah keluarga saudagar. Dan seseorang yang terbaring
lemah tersebut notabenenya adalah ibu dari sang saudagar dari pihak laki-laki.
Bagaimana bisa menempatkan seorang ibu di tengah ruangan yang kurang ventilasi.
Bahkan menurutku lebih baik kondisi kamar kos mahasiswa termurah sekalipun.
Belum habis rasa miris, sebelum masuk ruangan
sang saudagar perempuan, alias menantu si ibu berbisik kepada kami,
"Ruangannya bau. Tukang ngepelnya nda masuk soalnya. Bau pesing." Aku
menautkan alis. Skill analisis berbicara. Kita berusaha dicegah untuk memasuki
ruangan. Aku sedikit ragu. Tapi ibuk menggandeng tanganku. Orang niatnya kesini mau silaturrahim, mau sungkem sama ibu sekaligus
mertua si saudagar tersebut. Maka kami pun tetap melangkah masuk ke ruangan
dengan menyiapkan segala konsekuensi. Jujur ketika dikatakan bau pesing kupikir
hanya sekadar bau, tapi pikiranku salah. Bahkan hampir seluruh lantai yang
sempit tersebut dipenuhi dengan air pipis yang menggenang. Aku yang waktu itu
memakai kaos kaki bisa merasakan air itu meresap ke dalam kaos kakiku, meskipun
aku berjalan jinjit sekalipun.
Setelah bersalaman dan menunaikan hajat kami,
kami langsung keluar kamar. Padahal rencana mau berbasa-basi dan menemani
ngobrol. Tapi mau tidak mau menjadi urung. Setelah dari kamar kami saling
pandang. Dan lihat, bahkan boro-boro menemani atau apa, sang saudagar beserta
anak-ananya justru sibuk sendiri, bercengkarama di lain sudut rumah yang tentu
lebih bersih dan nyaman dari kamar mertuanya. Kami menyimpan kecewa dan kesal
di hati kami masing-masing. Bagaimana bisa membiarkan tamu seperti itu,
tidakkah malu? Bagaimana bisa membiarkan orang tua yang tengah sakit dalam
keadaan tersebut? Baik kasur hingga lantai penuh dengan air pipis, bahkan
hingga menggenang. Pernah tahu istilah trocoh atau bocor, yakni hujan yg masuk
rumah karena ada atap yang bolong? Ya seperti itu. Untuk reason yang sepele.
Pembantu lagi lebaran. Ya namanya juga hari lebaran, mengapa tidak berinisiatif
membersihkan sendiri? Mengingat orang yang terbaring di kamar itu bukan orang
lain. Namun ibu sekaligus mertua sekaligus nenek dari mereka. Orang yang tentu berjasa banyak bagi mereka
dalam meniti karir dan menghasilkan banyak harta. Tidakkah berpikir bahwa air
pipis itu mengandung banyak kuman? Dan najis tentu saja. Parahnya lagi, bahkan
salah satu sang cucu ini adalah mahasiswi akhir kedokteran yang seharusnya jauh
memahami tentang kebersihan dan kesehatan. Bukankah seharusnya menangani hal
seperti itu sudah biasa dan tidak seharusnya terbersit rasa jijik apalagi jika
beliau adalah neneknya sendiri?
"Tapi buk, banyak dokter yang kutemukan
memang seringnya gak tegelan (gak
tegaan). Masih sering merasa jijik. Meski gak semua seperti itu. Tapi kebetulan
yang kutemui ya begitu. Malah tegelan bidan sama perawat menurutku,"
kataku usai membahas kemirisan dan tidak habis pikir dengan si cucu tersebut.
Untuk apa kuliah kedokteran dengan biaya mahal tapi implementasi ke keluarga
sendiri tidak ada?
"Ya, karena dokter terima beres dari
perawat. Tapi bagaimanapun yang namanya dokter mengurus orang sakit harusnya
sudah biasa. Setidaknya bisa menyediakan pampers atau pispot. Harusnya
pikirannya mengarah kesana. Kebangetan kalau mahasiswa kedokteran masih
jijikkan ngrawat orang sakit." Kami sama-sama menghela napas. Aku teringat
betul bagaimana pengalaman merawat embah ketika beliau terbaring sakit. Waktu
itu aku masih duduk di bangku MA. Bulek memanggilku. "Mbak, tolong buangin pipis simbah. Giliran kamu sekarang. Semua
harus ngrasain ngrawat simbah." Itu pengalamanku memegang pispot untuk
pertama kalinya. Jujur saja, diliputi rasa jijik tentunya. Dan aku bersedia
melakukan itu karena perasaan takut dimarahin bulekku awalnya. Namun hari demi
hari aku sudah terbiasa. Setiap ke tempat embah aku akan menawarkan diri
membuangkan pipis. Rasa jijik yang pernah melingkupi sudah sirna. Aku hanya
berpikir kelak jika umur ada, aku juga pasti menua. Dan bahkan ketika aku kecil
aku juga tidak bisa mngurus pipisku sendiri. Melainkan orangtuakulah yang
mengganti popokku dan mencucinya. Bahkan beberapa tahun kemudian aku akhirnya
juga terbiasa merawat bapak, termasuk dalam hal membuangkan pipis beliau.
Menurutku itu wujud bakti. Dan lagi, hidup itu berotasi. Apa yang hendak
disombongkan dengan keadaan saat ini? Jika Allah menghendaki, Dia dengan mudah
saja merubah kondisi kita. Membuat kita menjadi terbaring lemah tak berdaya dan
butuh orang lain untuk merawat kita.
Kembali mengingat kemirisan kondisi saudaraku,
aku memiliki spekulasi dan mengutarakannya pada ibuku. Mungkin karena saudaraku
tersebut tinggal di rumah anak laki-lakinya. Sedangkan waktu kami kesana
kebetulan anak laki-lakinya sedang tidak ada. Karena hanya ada menantu jadi
kurang terurus. Ibuku menggeleng tegas. "Ya tidak bisa. Bagi menantu, ibu
suami ya ibunya dia sendiri. Kewajibannya sama. Cucu-cucunya juga kebangetan.
Acuh tak acuh sekali." Aku kembali mengenang waktu embah sakit. Kami semua
cucu menyayangi dan turut merawat embah, bahkan bersedia tidur berbaring di
samping embah.
"Begitulah kaya bukanlah segala-galanya.
Itu contoh kaya yang salah. Hanya mentang-mentang memiliki banyak harta,
apa-apa lantas diserahkan pada pembantu, bahkan dalam hal mengasuh orangtua.
Pembantu tidak ada maka tidak mau tahu dan alhasil memperlakukan orangtua
semena-mena. Sekalipun menggunakan jasa pembantu, tidak seharusnya berlepas
tangan. Apa salahnya ikut membersihkan sekali dua kali saat hari lebaran,
apalagi mengingat hari lebaran secara adat adalah saat banyak orang berkunjung
untuk sungkem ke yang lebih tua. Itu artinya akan memiliki banyak tamu."
Aku manggut-manggut. Sesungguhya baru pertama
kali kami pergi ke rumah saudaraku itu karena biasanya beliau bersama anak yang
lainnya. Beliau mempunyai 3 anak yang rumahnya masih 1 desa. Dan sesungguhnya
beliau juga memiliki cucu dari masing-masing anaknya yang bergelut di bidang
kesehatan, 2 bidan dan 1 kedokteran. Namun kata ibuk, kondisi terparah adalah
ketika bersama anak laki-lakinya ini. Bagaimana bisa sang cucu, menantu hingga
anak sendiri tidak tampak menyayanginya? Kurang peduli padanya. Padahal rumah
mereka berdiri di atas warisan dari beliau. Tidakkah terbersit jasanya yang tak
terkira? Mengingat akan proses yang pasti tidak terlepas dari peran seorang ibu
sehingga menjadi saudagar yang bisa dikatakan sukses?
Sesampainya di rumah setelah kami mencuci kaki
kami, ibuk duduk mematung. Ibuk tiba-tiba teringat pada nenek (sibunya ibuk)
yang waktu itu juga menderita sakit tua. "Ya Allah, alhamdulillah.
Bersyukur dulu sibu ketika sakit tidak separah itu. Pakaian yang dikenakan,
tempat tidur terjaga kebersihannya," ujar Ibuk mengenang.
"Mungkin karena tinggalnya di rumah anak
laki-laki, buk, jadi terabaikan? Karena sebelumnya pas tinggal di rumah anaknya
yang perempuan tidak begitu kondisinya," ujarku.
"Harusnya bukan jadi masalah. Dulu waktu
sibu sakit kami berlima saling gantian menjaga embahmu kecuali pakdhe dan dan
bulikmu yang tinggal di luar Jogja (Bandung dan Jakarta). Kami membuat jadwal
jaga. Pakdhe dan Om-mu sebenarnya juga sama sekali nda mau mengurus embahmu.
Tapi bukan berarti berlepas tangan. Dimaklumi karena laki-laki. Tapi akhirnya
istrinyalah yang jalan sebagai perwakilan. Jadi pakdhemu tetap datang ke tempat
embah, namun yang memastikan tempat tidur, kebaya jarik yang mbahmu kenakan
hingga pispot senantiasa bersih, serta yang mengurus semua keperluan mbahmu ya
budhe, istri pakdhe. Karena seharusnya memang begitu. Tapi catatan lain juga
semua kebutuhan ketika sibu sakit menggunakan uang sibu. Jadi tidak ada
iri-irian karena ada yabg terpakai uangnya dan tidak ada yang merasa
terbebani."
Aku kembali manggut-manggut. Secara tidak
langsung ibuk memberiku internalisasi untuk amunisi nanti. Sungguh banyak
pelajaran berharga yang kudapatkan dan ingin rasanya tidak kusimpan sendiri.
Pelajaran tersebut di antaranya bahwa,
1. Ingat birrul walidayn. Termasuk ketika
orang tua memasuki usia senja atau dalam bahasa perkembangan masa dewasa akhir
(late adulthood). Tunaikanlah kebutuhan mereka sebagaimana mereka telah
memenuhi kebutuhan kita di waktu kecil. Dan harus peka.
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu
’alaihi wa sallam pernah bersabda : “Celaka! Celaka! Dan
benar-benar celaka!” Ada yang bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?”. Beliau
menjawab, “Orang yang mendapati salah satu atau kedua orangtuanya sampai lanjut
usia, tetapi tidak bisa menyebabkan dia masuk surga (karena sikapnya kepada
kedua orangtuanya).” (HR. Muslim)
“Sungguh
hina, sungguh hina, kemudian sungguh hina, orang yang mendapatkan salah seorang
atau kedua orangtuanya lanjut usia di sisinya (semasa hidupnya), namun ia
(orangtuanya) tidak memasukkannya ke Surga.” (HR. Ahmad).
“Dan
Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya;
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman [31]: 14).
2. Jangan angkuh ketika kaya. Apalagi lantas
memperlakukan orang tua dan tamu semena-mena.
3. Implementasikan ilmu terutama di sekeliling
kita dan berbagi kasih sayang.
4. Bersiap dengan segala kemungkinan. Jika
bahkan tidak terbiasa merawat orang sakit, maka harus mulai membiasakan diri
jika ada anggota keluarga yang terbaring sakit dan membutuhkan tangan kita.
5. Bahwa kewajiban istri/suami kepada mertua
sama seperti kewajibannya memenuhi hak-hak orang tua kandungnya.
6. Jangan sekadar mendidik, mempersuasi hingga
mewarisi hal-hal seputar kaya dan harta. Namun juga kepekaan sosial, attitude,
ilmu agama itu juga penting. Sehingga bisa balance penerapannya.
7. Mempersiapkan untuk hal-hal tak terduga
seperti sakit dsb. Seperti embah meski berusia udzur namun tetap menyiapkan dana
untuk kebutuhannya sendiri (dari hasil sawah). Aku sendiri beberapa kali
mempersuasi teman untuk rajin menabung. Selain untuk persiapan masa depan,
kelak uang itu bisa berguna untuk hal-hal tak terduga. "Bagaimana tega,
hidup masih menyusahkan orangtua, sakit demikian pun jika kematian datang jika
tanpa persiapan. Ingat di dunia ini, bahkan mati sekalipun butuh biaya. Maka
setidaknya dengan tabungan yang meskipun tidak seberapa bisa meringankan beban
orangtua atau mereka yang bertanggung jawab atas kita nantinya."




0 komentar:
Posting Komentar