• Feed
  • Facebook
  • Twitter
  • GPlus
  • Youtube
  • flickr
  • Last.fm
  • Instagram
  • Skype

Diseminasi Kognisi

When my ideas are popping up, i just wanna write and write,, i hope my post can be useful not only for me but also for the others :)

  • home
  • Psychology
    • Religion and Spirituality
    • Social
    • Education
    • Indigenous
    • Personality
    • Industial Oranizational
    • Clinis
  • Ibrah
  • Dear, Diary!
  • Fiction
    • Short Story (Cerpen)
    • Poetry (Puisi)
  • Movies
  • Soccer
  • Book
  • Islamic World
  • Journals
  • Disclamer
  • Privacy Policy
  • Contact
  • Sitemaps
skip to main | skip to sidebar

Precious Lesson




Mau sharing cerita.. Jadi kemarin pas hari kedua lebaran, saya ikut ibuk untuk ujung (silaturrahim) ke tempat saudara yang kebetulan tengah menderita sakit tua. Dan betapa kagetnya kami saat mengetahui ruangan tempat beliau berbaring. Sangat kecil, gelap dan pengap, hanya dibatasi oleh tripleks-tripleks. Sangat kontras dengan kenyataan bahwa ruangan tersebut berada di dalam rumah yang bisa dikatakan sedikit mewah. Bagaimana tidak, yang mendiami rumah tersebut adalah keluarga saudagar. Dan seseorang yang terbaring lemah tersebut notabenenya adalah ibu dari sang saudagar dari pihak laki-laki. Bagaimana bisa menempatkan seorang ibu di tengah ruangan yang kurang ventilasi. Bahkan menurutku lebih baik kondisi kamar kos mahasiswa termurah sekalipun. 
Belum habis rasa miris, sebelum masuk ruangan sang saudagar perempuan, alias menantu si ibu berbisik kepada kami, "Ruangannya bau. Tukang ngepelnya nda masuk soalnya. Bau pesing." Aku menautkan alis. Skill analisis berbicara. Kita berusaha dicegah untuk memasuki ruangan. Aku sedikit ragu. Tapi ibuk menggandeng tanganku. Orang niatnya kesini mau silaturrahim, mau sungkem sama ibu sekaligus mertua si saudagar tersebut. Maka kami pun tetap melangkah masuk ke ruangan dengan menyiapkan segala konsekuensi. Jujur ketika dikatakan bau pesing kupikir hanya sekadar bau, tapi pikiranku salah. Bahkan hampir seluruh lantai yang sempit tersebut dipenuhi dengan air pipis yang menggenang. Aku yang waktu itu memakai kaos kaki bisa merasakan air itu meresap ke dalam kaos kakiku, meskipun aku berjalan jinjit sekalipun. 

Setelah bersalaman dan menunaikan hajat kami, kami langsung keluar kamar. Padahal rencana mau berbasa-basi dan menemani ngobrol. Tapi mau tidak mau menjadi urung. Setelah dari kamar kami saling pandang. Dan lihat, bahkan boro-boro menemani atau apa, sang saudagar beserta anak-ananya justru sibuk sendiri, bercengkarama di lain sudut rumah yang tentu lebih bersih dan nyaman dari kamar mertuanya. Kami menyimpan kecewa dan kesal di hati kami masing-masing. Bagaimana bisa membiarkan tamu seperti itu, tidakkah malu? Bagaimana bisa membiarkan orang tua yang tengah sakit dalam keadaan tersebut? Baik kasur hingga lantai penuh dengan air pipis, bahkan hingga menggenang. Pernah tahu istilah trocoh atau bocor, yakni hujan yg masuk rumah karena ada atap yang bolong? Ya seperti itu. Untuk reason yang sepele. Pembantu lagi lebaran. Ya namanya juga hari lebaran, mengapa tidak berinisiatif membersihkan sendiri? Mengingat orang yang terbaring di kamar itu bukan orang lain. Namun ibu sekaligus mertua sekaligus nenek dari mereka. Orang yang tentu berjasa banyak bagi mereka dalam meniti karir dan menghasilkan banyak harta. Tidakkah berpikir bahwa air pipis itu mengandung banyak kuman? Dan najis tentu saja. Parahnya lagi, bahkan salah satu sang cucu ini adalah mahasiswi akhir kedokteran yang seharusnya jauh memahami tentang kebersihan dan kesehatan. Bukankah seharusnya menangani hal seperti itu sudah biasa dan tidak seharusnya terbersit rasa jijik apalagi jika beliau adalah neneknya sendiri?

 "Tapi buk, banyak dokter yang kutemukan memang seringnya gak tegelan (gak tegaan). Masih sering merasa jijik. Meski gak semua seperti itu. Tapi kebetulan yang kutemui ya begitu. Malah tegelan bidan sama perawat menurutku," kataku usai membahas kemirisan dan tidak habis pikir dengan si cucu tersebut. Untuk apa kuliah kedokteran dengan biaya mahal tapi implementasi ke keluarga sendiri tidak ada? 

"Ya, karena dokter terima beres dari perawat. Tapi bagaimanapun yang namanya dokter mengurus orang sakit harusnya sudah biasa. Setidaknya bisa menyediakan pampers atau pispot. Harusnya pikirannya mengarah kesana. Kebangetan kalau mahasiswa kedokteran masih jijikkan ngrawat orang sakit." Kami sama-sama menghela napas. Aku teringat betul bagaimana pengalaman merawat embah ketika beliau terbaring sakit. Waktu itu aku masih duduk di bangku MA. Bulek memanggilku. "Mbak, tolong buangin pipis simbah. Giliran kamu sekarang. Semua harus ngrasain ngrawat simbah." Itu pengalamanku memegang pispot untuk pertama kalinya. Jujur saja, diliputi rasa jijik tentunya. Dan aku bersedia melakukan itu karena perasaan takut dimarahin bulekku awalnya. Namun hari demi hari aku sudah terbiasa. Setiap ke tempat embah aku akan menawarkan diri membuangkan pipis. Rasa jijik yang pernah melingkupi sudah sirna. Aku hanya berpikir kelak jika umur ada, aku juga pasti menua. Dan bahkan ketika aku kecil aku juga tidak bisa mngurus pipisku sendiri. Melainkan orangtuakulah yang mengganti popokku dan mencucinya. Bahkan beberapa tahun kemudian aku akhirnya juga terbiasa merawat bapak, termasuk dalam hal membuangkan pipis beliau. Menurutku itu wujud bakti. Dan lagi, hidup itu berotasi. Apa yang hendak disombongkan dengan keadaan saat ini? Jika Allah menghendaki, Dia dengan mudah saja merubah kondisi kita. Membuat kita menjadi terbaring lemah tak berdaya dan butuh orang lain untuk merawat kita. 

Kembali mengingat kemirisan kondisi saudaraku, aku memiliki spekulasi dan mengutarakannya pada ibuku. Mungkin karena saudaraku tersebut tinggal di rumah anak laki-lakinya. Sedangkan waktu kami kesana kebetulan anak laki-lakinya sedang tidak ada. Karena hanya ada menantu jadi kurang terurus. Ibuku menggeleng tegas. "Ya tidak bisa. Bagi menantu, ibu suami ya ibunya dia sendiri. Kewajibannya sama. Cucu-cucunya juga kebangetan. Acuh tak acuh sekali." Aku kembali mengenang waktu embah sakit. Kami semua cucu menyayangi dan turut merawat embah, bahkan bersedia tidur berbaring di samping embah. 

"Begitulah kaya bukanlah segala-galanya. Itu contoh kaya yang salah. Hanya mentang-mentang memiliki banyak harta, apa-apa lantas diserahkan pada pembantu, bahkan dalam hal mengasuh orangtua. Pembantu tidak ada maka tidak mau tahu dan alhasil memperlakukan orangtua semena-mena. Sekalipun menggunakan jasa pembantu, tidak seharusnya berlepas tangan. Apa salahnya ikut membersihkan sekali dua kali saat hari lebaran, apalagi mengingat hari lebaran secara adat adalah saat banyak orang berkunjung untuk sungkem ke yang lebih tua. Itu artinya akan memiliki banyak tamu." 

Aku manggut-manggut. Sesungguhya baru pertama kali kami pergi ke rumah saudaraku itu karena biasanya beliau bersama anak yang lainnya. Beliau mempunyai 3 anak yang rumahnya masih 1 desa. Dan sesungguhnya beliau juga memiliki cucu dari masing-masing anaknya yang bergelut di bidang kesehatan, 2 bidan dan 1 kedokteran. Namun kata ibuk, kondisi terparah adalah ketika bersama anak laki-lakinya ini. Bagaimana bisa sang cucu, menantu hingga anak sendiri tidak tampak menyayanginya? Kurang peduli padanya. Padahal rumah mereka berdiri di atas warisan dari beliau. Tidakkah terbersit jasanya yang tak terkira? Mengingat akan proses yang pasti tidak terlepas dari peran seorang ibu sehingga menjadi saudagar yang bisa dikatakan sukses? 

Sesampainya di rumah setelah kami mencuci kaki kami, ibuk duduk mematung. Ibuk tiba-tiba teringat pada nenek (sibunya ibuk) yang waktu itu juga menderita sakit tua. "Ya Allah, alhamdulillah. Bersyukur dulu sibu ketika sakit tidak separah itu. Pakaian yang dikenakan, tempat tidur terjaga kebersihannya," ujar Ibuk mengenang. 

"Mungkin karena tinggalnya di rumah anak laki-laki, buk, jadi terabaikan? Karena sebelumnya pas tinggal di rumah anaknya yang perempuan tidak begitu kondisinya," ujarku.
"Harusnya bukan jadi masalah. Dulu waktu sibu sakit kami berlima saling gantian menjaga embahmu kecuali pakdhe dan dan bulikmu yang tinggal di luar Jogja (Bandung dan Jakarta). Kami membuat jadwal jaga. Pakdhe dan Om-mu sebenarnya juga sama sekali nda mau mengurus embahmu. Tapi bukan berarti berlepas tangan. Dimaklumi karena laki-laki. Tapi akhirnya istrinyalah yang jalan sebagai perwakilan. Jadi pakdhemu tetap datang ke tempat embah, namun yang memastikan tempat tidur, kebaya jarik yang mbahmu kenakan hingga pispot senantiasa bersih, serta yang mengurus semua keperluan mbahmu ya budhe, istri pakdhe. Karena seharusnya memang begitu. Tapi catatan lain juga semua kebutuhan ketika sibu sakit menggunakan uang sibu. Jadi tidak ada iri-irian karena ada yabg terpakai uangnya dan tidak ada yang merasa terbebani." 

Aku kembali manggut-manggut. Secara tidak langsung ibuk memberiku internalisasi untuk amunisi nanti. Sungguh banyak pelajaran berharga yang kudapatkan dan ingin rasanya tidak kusimpan sendiri. Pelajaran tersebut di antaranya bahwa,
1. Ingat birrul walidayn. Termasuk ketika orang tua memasuki usia senja atau dalam bahasa perkembangan masa dewasa akhir (late adulthood). Tunaikanlah kebutuhan mereka sebagaimana mereka telah memenuhi kebutuhan kita di waktu kecil. Dan harus peka. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah bersabda : “Celaka! Celaka! Dan benar-benar celaka!” Ada yang bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Orang yang mendapati salah satu atau kedua orangtuanya sampai lanjut usia, tetapi tidak bisa menyebabkan dia masuk surga (karena sikapnya kepada kedua orangtuanya).” (HR. Muslim)

“Sungguh hina, sungguh hina, kemudian sungguh hina, orang yang mendapatkan salah seorang atau kedua orangtuanya lanjut usia di sisinya (semasa hidupnya), namun ia (orangtuanya) tidak memasukkannya ke Surga.” (HR. Ahmad).

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman [31]: 14).

2. Jangan angkuh ketika kaya. Apalagi lantas memperlakukan orang tua dan tamu semena-mena. 


3. Implementasikan ilmu terutama di sekeliling kita dan berbagi kasih sayang. 

4. Bersiap dengan segala kemungkinan. Jika bahkan tidak terbiasa merawat orang sakit, maka harus mulai membiasakan diri jika ada anggota keluarga yang terbaring sakit dan membutuhkan tangan kita. 


5. Bahwa kewajiban istri/suami kepada mertua sama seperti kewajibannya memenuhi hak-hak orang tua kandungnya. 


6. Jangan sekadar mendidik, mempersuasi hingga mewarisi hal-hal seputar kaya dan harta. Namun juga kepekaan sosial, attitude, ilmu agama itu juga penting. Sehingga bisa balance penerapannya. 

7. Mempersiapkan untuk hal-hal tak terduga seperti sakit dsb. Seperti embah meski berusia udzur namun tetap menyiapkan dana untuk kebutuhannya sendiri (dari hasil sawah). Aku sendiri beberapa kali mempersuasi teman untuk rajin menabung. Selain untuk persiapan masa depan, kelak uang itu bisa berguna untuk hal-hal tak terduga. "Bagaimana tega, hidup masih menyusahkan orangtua, sakit demikian pun jika kematian datang jika tanpa persiapan. Ingat di dunia ini, bahkan mati sekalipun butuh biaya. Maka setidaknya dengan tabungan yang meskipun tidak seberapa bisa meringankan beban orangtua atau mereka yang bertanggung jawab atas kita nantinya."
Diposting oleh Arwiena di 20.39
Label: birrul walidayn, jijik, kaya, orang tua, pipis, sakit, udzur
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Langganan: Posting Komentar (Atom)
Posting Lebih Baru Posting Lama

Popular Posts

  • PSIKOLOGI KEPRIBADIAN
    - Psikologi Kontemporer (Non Ilmiah)- KLIK Nebak Golongan Darah Dilihat dari Cara SMS     KLIK Ungkap Kepribadianmu!   
  • Rangkuman Kajian
    Nemu rangkuman di notes hp, tampaknya hasil ndengerin kajian entah langsung atau online (karena keliatan keburu nulisnya hehe). Sayangnya...
  • Di Balik Kehilangan (Perpisahan Dua Dunia)
    2 keponakan dan budhe yang notabene adalah yangti mereka. Aku belajar dari budhe tentang arti mengikhlaskan..tentang penerimaan kenyata...
  • BOOK- WRITING WORLD
    TIPS MENULIS KLIK Tips Menulis Ala Raditya Dika  
  • MENGUAK PERDEBATAN HADITS MISOGINIS
    Oleh: NAMA: ARI WIDYA NUGRAHENI (201210230311044 – PSIKOLOGI F) Kemunculan tulisan Fatimah Mernissi yang mengkritik...
  • SOCCER
    KLIK Ketika Real Madrid Gagal Kejar Gelar Juara Copa del Rey
  • MOVIES, VIDEOS AND MUSICS
    RESENSI BERBAGAI FILM DENGAN SARAT AMANAT KLIK Review Film The Vow KLIK Review Film A Walk to Remember  LIRIK FILM...
  • Lirik Ninja Hatori
    Sapa gak tau lagu ini ??!! Lagu kita jaman SD atau TK mungkin.. Oh atau jaman belum sekolah?? Nah mari bernyanyi bersama Satu....
  • Kisah Motivasi
    KLIK Akibat Gengsi KLIK Berkorban VS Beruntung KLIK Si Kaya VS Si Miskin
  • (tanpa judul)
    jika aku menuliskan sebuah kegelapan.. kesedihan. apakah kau akan percaya? bayangan hitam tengah mengikuti. maukah kau jadi penerangku?

Blogger templates

Blog Archive

  • ►  2018 (1)
    • ►  April (1)
  • ▼  2017 (18)
    • ►  Oktober (1)
    • ▼  Juni (2)
      • Precious Lesson
      • Di Balik Kehilangan (Perpisahan Dua Dunia)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (8)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2012 (1)
    • ►  Juli (1)
  • ►  2011 (12)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (5)

Category

  • A
  • a walk to remember
  • AB
  • antologi puisi
  • Artikel
  • artikel islam
  • Asuransi Jiwa
  • B
  • belajar menulis
  • Benzema
  • biadab
  • bingung
  • birrul walidayn
  • budhe
  • cara ngedit
  • cara SMS
  • CDR
  • Celta de Vido
  • cerita
  • Cerpen
  • Channing Tatum
  • Christian Ronaldo
  • Copa del Rey
  • Cr7
  • Danilo
  • dosa fb
  • dunia maya
  • emansipasi
  • fana
  • film romantis
  • film sedih
  • film tahun 2002
  • fixmistakes
  • football
  • gengsi
  • gila
  • golongan darah
  • hadits mesoginis
  • Hambali
  • ibrah
  • Ideologi Muhammadiyah
  • Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
  • ilmu
  • Imam Ahmad
  • Imam Syafi;i
  • IMM
  • IMM Malang
  • immawan
  • immawati
  • Investasi Terbaik
  • jijik
  • jongkok
  • kader
  • kak Christine
  • Kak Ridz
  • karma
  • kata kata hebat
  • kaya
  • kebahagiaan
  • kecelakaan maut
  • kematian
  • Kemuhammadiyahan
  • Keponakan
  • KH Ahmad Dahlan
  • kholeris
  • kisah
  • klise
  • Komisarat Restorasi
  • Konyol
  • kotoran
  • kutipan film
  • lagu
  • Linda
  • lirik
  • Lita
  • Lucas Vazquez
  • LucasVazquez
  • luka
  • Mandy Moore
  • Manfaat Asuransi
  • melankolis
  • menulis
  • menurutku
  • misoginis
  • motivasi
  • movie
  • movie quote
  • movie quotes
  • movies
  • Muhammadiyah
  • nevergiveup
  • nina hatori
  • Ninja Hatori
  • O
  • only hope
  • onta
  • orang tua
  • own goal
  • pengalamanku
  • pengusaha
  • penulis pemula
  • pepatahfilm
  • pepmimpin wanita
  • perempuan
  • perjuangan
  • piatu
  • pipis
  • puisi
  • puisi IMM
  • quotes
  • Rachel McAdams
  • raditya dika
  • rahasia penulis
  • Real Madrid
  • resensi
  • resensi film
  • review film
  • Ronaldo
  • sajak
  • sakit
  • sanguinis
  • sepak bola
  • sepakbola
  • sepakbola Spanyol
  • sesal
  • sifat
  • sinting
  • soccer
  • socer
  • sukurin
  • the vow
  • The Vow. movie
  • Tipe-tipe kepribadian
  • tips
  • tips edit
  • tips menulis
  • ToniKroos
  • Tugas Sekolah
  • turnamen bola
  • udzur
  • Unit Link
  • Universitas
  • yatim
 

Mengenai Saya

Foto saya
Arwiena
I am lover of Kenshin Himuraaa, ♥♥♥ I like odd numbers, especially number 3 and 7 :) Diseminasi Kognisi = Distribusi Pengetahuan. Yes, I hope I can be a useful person.. bahkan jika hanya bagai noktah atom semoga bisa memiliki nilai guna. Ambil baiknya, tinggalkan buruknya... :') Sukseslah, kayalah, lantas sukseskan dan kayakanlah orang lain! Ajak minimal 1 bersamamu tumbuhkan 1000 bahagia di sekitarmu.. :) :) :)
Lihat profil lengkapku

.

.

Pengikut

Translate

Total Tayangan Halaman

About Job

About Job
Copyright © • Diseminasi Kognisi • All Rights Reserved
Blog at Blogger.com • Template Galauness by Iksandi Lojaya