Ngedit Ala Raditya Dika
1. Kasih jarak dulu
Sebelum
mengedit tulisan kamu, simpen dulu tulisan tersebut minimal satu
minggu. Begitu kamu selesai menulis draft 1, jalan-jalan dulu, lupakan
tentang naskah kamu. Baru, setelah seminggu, kembali ke naskah kamu.
Dengan memberikan waktu/jarak seperti ini, pasti mata kamu dalam membaca
naskah kamu akan lebih fresh. Mata kamu akan menjadi mata seorang
pembaca yang bisa melihat kesalahan-kesalahan yang mungkin tidak
terlihat sewaktu sedang menulis dulu.
2. Lebih padat lagi!
2. Lebih padat lagi!
Bagi
gue, mengedit lebih berarti memotong, atau merampingkan. Gue akan lihat
kalimat-kalimat yang bisa dibuat lebih “padet”. Gue akan coba
menggunakan kata yang lebih sedikit untuk tujuan yang sama. Misalnya, di
naskah ada tulisan: “Gue sama sekali enggak tahu apa gue harus pergi ke
sana atau tidak.” Kalimat ini akan gue buat lebih padet dengan
menulisnya seperti ini aja: “Gue bingung ke sana apa enggak.” Kalimat
dengan jumlah kata yang sedikit seperti ini membuat tulisan kita tidak
terasa “sesak” dan “ramai”.
3. Kurangi kalimat pasif
Gue
pasti sebisa mungkin menggunakan kalimat aktif. Setiap kali gue nemu
kalimat pasif, pasti gue ubah menjadi aktif. Seperti misalnya: “Ketimun
itu diambil Edgar” akan gue ganti menjadi “Edgar mengambil ketimun”.
Penulisan kalimat dalam bentuk aktif akan membuat pembaca bisa
membayangkan kalimat tersebut dengan lebih visual. Kalimat aktif juga
membuat pembaca merasa tulisannya bergerak maju, dan orang-orang
ditulisan tersebut terasa melakukan kegiatan.
4. Speaker attribution
Speakter
attribution berarti frase yang menandakan siapa yang berbicara dalam
kalimat langsung. Misalnya “kata Edgar”, atau “kata gue”, atau “kata
Nyokap”. Biasanya dalam mengedit gue akan membuat dialog menjadi lebih
enak divisualkan dengan mengganti/mencampurkan speaker attribution
dengan sebuah kegiatan.
Misalnya:
“Gar, di buku Marmut Merah Jambu ada cerita tentang kamu ya!” seru gue.
“Sudah cukup, Bang! Aku udah gak mau lagi ditulis di buku Abang,” kata Edgar.
“Tapi Gar, kalo abang kasih sepuluh ribu perak mau?” tanya gue.
“Mau, Bang! Mau!” kata Edgar.
Gue edit menjadi lebih visual dan tidak membosankan menjadi:
“Gar, di buku Marmut Merah Jambu ada cerita tentang kamu ya!” seru gue.
“Cukup, Bang!” Edgar menggelengkan kepalanya. “Aku udah gak mau lagi ditulis di buku Abang!”
Gue mengeluarkan dompet, “Tapi, Gar… Kalo abang kasih sepuluh ribu perak mau?”
“MAU BANG! MAU!”
Harga diri Edgar ternyata lebih murah daripada gue kira.
4. Cek typo
Selalu
cek dan re-check tulisan kamu sudah bebas kesalahan ketik. Tidak ada
yang lebih nyebelin buat editor penerbit baca selain naskah yang banyak
salah ketik.
5. KISS = Keep It Simple, Stupid!
Gue
adalah tipe penulis yang selalu menghindari penggunaan kata yang
terlalu berat. Kalau gue nemuin kata seperti ini dalam buku gue: “Dia
harus lebih konsisten dalam mengaktualisasikan idenya.” biasanya gue
akan ganti menjadi “Dia harus lebih sering mewujudkan idenya.” Kata-kata
dalam Bahasa Inggris yang keluar pas lagi nulis draft pertama seperti
“gesture” gue pasti rubah menjadi “sikap”. Sebisa mungkin gue menulis
dengan istilah yang lebih banyak orang tahu. Semakin simpel, semakin
baik. Menulis bukan untuk memberitahu kamu pintar dan ngerti banyak
kata-kata aneh, tapi untuk mengkomunikasikan cerita kamu secara efektif
kepada pembaca.
6. Struktur dulu, baru komedi
Karena
gue adalah penulis komedi, sewaktu menulis gue berusaha untuk tertawa
pada jokes gue. Kalau gue ketawa, berarti jokesnya berhasil, paling
enggak buat gue. Kalau lagi editing, gue emang jarang ketawa sama jokes
yang gue buat sebelumnya (karena udah tahu apa jokesnya apa). Tapi,
biasanya gue akan selalu mencari celah untuk memasukkan komedi ke dalam
tulisan gue sembari gue mengedit.
Buat
kamu yang mau menulis komedi, jangan takut kalau dalam draft pertama
tulisan kamu belum lucu. Komedi akan datang sendirinya kalau struktur
tulisan kamu sudah rapih dan benar. Konsentrasi dulu dengan cerita yang
mau kamu sampaikan, dan komedi bisa ditambahkan/dieksplorasi pada saat
rewriting. Hindari penulisan komedi yang malas seperti memasukkan
tebak-tebakan, cerita lucu, ini semua harus dihapus pas lagi ngedit
tulisan kamu.
7. Hindari hal-hal klise
Gak
tahu dengan penulis lain, tapi gue gak terlalu suka dengan penggunaan
istilah yang klise seperti “Dia seperti tong kosong nyaring bunyinya”,
atau “Dia cewek terindah yang pernah gue lihat”, atau “Gue cinta sama
dia setengah mati”. Istilah klise ini selain sudah terlalu sering
digunakan, juga tidak memperkaya tulisan kita sendiri. Setiap kali
ngedit, gue mencari istilah-istilah klise ini, membuangnya, dan mencari
metafor lain yang belum pernah dipakai sebelumnya.
8. Udah kelar? Edit lagi!
Writing
is rewriting. Kalau kamu pikir editan kamu udah bagus, kasih jarak
seminggu, lalu baca ulang dan edit lagi. Ulangi sampai kamu merasa
tulisan kamu sudah benar-benar bagus. Kecuali kalo kamu ditungguin
editor dan naskahnya sudah masuk deadline mau terbit kayak gue.
Huehehehhe..




0 komentar:
Posting Komentar