Kata orang kalo bingung itu yaa JONGKOK terus NGEDEN ! ! !
Tapi ni bingungnya bedaaa…..
Aku bingung mau kuliah di mana??!! Adakah Universitas bagus yang bersedia menampung diriku?! Seorang manusia yang jarang dianggap, ibarat sebuah debu….. Bahkan mungkin akan disingkirkan! Ohh Tidaakk!! Aku gak mau nasibku seperti itu………
Kemaren aku nemuin Guru BK-ku ama seorang sohibku. Bukannya dapat pencerahan tapi malah membuatku makin bingung. Ahh mungkin sel-sel otakku tengah mlengkuer-mlengkuer!
“Memang Ari mau sekolah di mana?”
“Nggak tau Us(sapaan Ustadzah). Pokoknya di universitas yang bagus.”
“Memangnya di mana? UGM?”
Aku mesem-mesem. Yahh begitulaah…..
“Tapi saya rada takut Us. Passing Gradenya tinggi-tinggi.”
Terus aku dijelasin bla-bla-bla….
Ketika kita hendak memilih perguruan tinggi kita musti ancang-ancang alias bersiap-siap. Hendak kemanakah kita? Mau dibawa kemana ini cita-cita??!
Mau dibawa kemana…bila kau terus menunda-nunda…… *wah mah nyanyi
Yang harus kita lihat adalah:
1. Lihat Passing Gradenya + posisi Univ tersebut (Apa termasuk Univ papan atas yang banyak peminatnya?)
2. Lihat ke jurusan yang hendak dituju. Setelah kita tahu grade-nya. Dilihat berapa peminatnya. Apakah banyak? Jika iya, waspada, karena mereka adalah saingan kita!
3. Lihat akreditasinya (Lebih baik cari jurusan di Univ yang akreditasinya minimal B. Jangan sampai yang C!)
4. Jika sudah mantap pada jurusan tertentu di Univ tsb dan tahu pesaing + gradenya, pikirkan seberapa mampukah kita untuk bersaing?
5. Mulai menghitung. Jika soal segini bisa jawab segini, kosong segini, salah segini. Kira-kira berapa nilai yang diperoleh? Mampukah melewati batas passing gradenya?
6. Lihat dalam fakultas tersebut. Apa kurikulum dan pembelajarannya. Bagaimana dengan para alumninya. Nasib diterima kerjanya.
7. Jika ragu-ragu tidak bisa, maka buat perbandingan dengan pilihan Univ kedua atau ketiga. Misal pilihan Univ pertama adalah UI. Tahu PG (Passing Grade-nya) + saingannya. Kita gambarkan perbandingan antara kita dengan pesaing 1:1500. Padahal yang diterima adalah 300 orang. Terus dikira-kira deh dengan kemampuan kita. Kalau missal nggak ya mending mundur, pindah ke univ kedua. Misal UGM. Bandingannya 1: 1000, yang diterima 250. Kalau ternyata perkiraan mampu OK, bisa. Atau jika rada ragu-ragu tengok juga pilihan Univ ketiga. Hitung-hitung dan perkirakan.
Kata guruku: Kita harus bisa mengira-ngira dengan baik. Jangan karena gengsi mengambil Univ bagus tapi ternyata kemampuan kita masih kurang. Lebih baik mengambil Univ yang walau statusnya tidak sebagus dengan Univ kelas atas namun jika kita mampunya memang di situ, kenapa tidak??
Aku berpikir-pikir. Mampukah aku masuk ke UGM? Hmm.. apa alasanku memilih UGM? Apakah karena gengsi? Biar dipandang orang pinter karena bisa masuk perguruan tinggi kelas atas?
Di tengah kegalauanku Guruku bilaang. “Ingat, jangan memilih Univ untuk sekadar ajang pamer dan gengsi. Buat apa kita kuliah di tempat yang bagus kalau pada akhirnya tak membuahkan hasil? Perlu dipikirkan, missal jika kamu jadi kuiah di UGM. Apakah dengan kuliah di sana menjamin kamu dapat pekerjaan? Karena hal itu belum tentu. sebuah universitas yang bagus atidak menjamin nasib seseorang.”
Aku mengerutkan kening. “Us, bukannaya lulusan univ bagus itu selalu diperhitungkan d dalam dunia kerja? Orang bakal lebih melirik kita karena kita adalah lulusan univ yang tidak diragukan lag kualitasnya daripada lulusan Univ di bawahnya?”
“Belum tentu. karena hal tersebut kembali ke masing-masing individu.”
Kata guruku lagi “ Lebih baik menjadi orang di deretan pertama di Universitas biasa daripada menjadi orang di urutan terakhir di universitas ternama. Ibarat jika kita sekolah di UNS dan kita dapat urutan kedua atau pertama. Hal itu lebih baik daripada kita sekoah di UGM tapi di urut an kelima belas.”
Hah, kok gitu? Bukannya katanya lebih baik kita menjadi emas di tengah permata daripada menjadi permata di tengah arang?? Bukannya katanya lebih baik kita dengan kapasitas otak sedang2 di tengah orang-orang pinter? Meski kita tidak teratas tapi kita lebih baik pada posisi tersebut, setidaknya bisa memotivasi diri jadi lebih baik, daripada di tengah-tengah orang yang berkapasitas standar dan kita ada di posisi atas.
“Kalau begitu kenapa di sekolah kita ada kelas unggulan?” aku dan temanku protes.
Maklum, ini adalah protesku. Saat di tingkat SMP aku dan kawanku tersebut memang 3 tahun berturut-turut ditempatkan pada posisi kelas unggulan. Ok, aku gak mau menipu diri sendiri, aku memang bangga mendapatkan kelas unggulan. Tapi di lain sisi aku juga sebal…. Kenapa?? Karena itu berarti kesempatanku untuk juara kelas sangat minim sekali… dan kenyataannya selama SMP aku gak pernah nempatin posisi 10 besar.:(
Dan yang menurutku ini adalah hal yang bener-nemr nggak adil.. waktu itu aku dan temanku (dr kelas lain) lihat-lihatan nilai rapor. Dia tiga besar dan aku belasan besar (sekali….-,-). Yang bikin kau sebel bahkan nilaiku di atasnya temanku tersebut ..aku ada di posisi belasan dan dia tiga? Ohh sungguh aku ngiri besar!! Rasanya aku ingin nangis saat itu dan pengennya gak usah di kelas unggul sekalian!T_T
Kenapa guruku jadi plin plan gini???!!
Guruku menjawab:
"Oo beda. Keberadaan kelas unggulan di tingkat SMP-SMA itu penting. Tapi kalau di perguruan tinggi itu hanya sebuah simbolis saja. Karena di dunia perguruan tinggi inilah saat kita berbaur dan menunjukkan siapa diori kita sebenarnya. Dunia ini adlah dunia persaingan. Waktu yang tepat untuk unjuk kebolehan agar dilirik dalam dunia pekerjaan. Dengan prestasi kita dan nama kita menjadi melambung sekalipun itu di Univ bukan kelas atas tentu lebih dilirik daripada ketiak kita menjadi mahasiswa tingkat sedang-sedang/ bawah di Univ papan atas yang nama kita tidak begitu populer di dalam univ tsb krn sangat bertanya pesaing2 kita."
Kenapa guruku jadi plin plan gini???!!
Guruku menjawab:
"Oo beda. Keberadaan kelas unggulan di tingkat SMP-SMA itu penting. Tapi kalau di perguruan tinggi itu hanya sebuah simbolis saja. Karena di dunia perguruan tinggi inilah saat kita berbaur dan menunjukkan siapa diori kita sebenarnya. Dunia ini adlah dunia persaingan. Waktu yang tepat untuk unjuk kebolehan agar dilirik dalam dunia pekerjaan. Dengan prestasi kita dan nama kita menjadi melambung sekalipun itu di Univ bukan kelas atas tentu lebih dilirik daripada ketiak kita menjadi mahasiswa tingkat sedang-sedang/ bawah di Univ papan atas yang nama kita tidak begitu populer di dalam univ tsb krn sangat bertanya pesaing2 kita."
Ahhhh….. pokonya penjelasan dari ustadzah malah bikin aku pusing dan lumayan tambah bingung…
Makin ababil aja aku……
Huhuhuhu:’(
Ahhh andai aku punya otak secerdas Einstein…………………………………………………………………………………..



0 komentar:
Posting Komentar