Hidup, umur senantiasa bertambah maju seiring dengan kekompleksan masalah dan tantangan yang mengikutinya. Maka penting menyiapkan amunisi untuk menjadi bantuan pijakan di saat menua dan menyiapkan segala kemungkinannya. Ya, perlu merancang harapan untuk masa depan, saat usia akan menapaki kematangan.
Tidak dipungkiri hidup adalah untuk memenuhi kebutuhan. Maslow, seorang tokoh psikolog humanis yang mengedepankan bahwa manusia memiliki hasrat kuat dan berhak menggunakan potensi yang ada untuk mewujudkan harapannya, telah mengenalkan teori dasar kebutuhan manusia. Inilah yang kemudian menjadi pijakan saya untuk membangun harapan sebelum kepala beruban.
1. Kebutuhan Fisiologis (sandang, pangan, papan)
Sebagai kebutuhan paling dasar, fisiologis adalah satu-satunya kebutuhan
yang harus diwujudkan meski tidak serta merta harus semuanya terpuaskan
seketika.
Berkaitan dengan ini, saya memiliki sederet rencana yakni selain terpenuhinya
untuk bertahan hidup tentunya, juga punya rencana harus bisa memasak minimal 27
jenis masakan, baik sayur atau kue sebelum menikah nanti. Jangka panjangnya
adalah bisa mencicipi lebih dari 27 jenis masakan halal dari berbagai mancanegara.
Untuk papan, ingin memiliki rumah atau sepetak sawah dari hasil jerih payah
sendiri sebelum umur 37.
2. Kebutuhan Akan Rasa Aman
Kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman berkaitan dengan rasa aman fisik ataupun
psikis seperti terhindar dari perang, bencana, kekurangan, sakit, cemas, bully, dan
sebagainya.
Tentu saja berharap untuk perdamaian dunia, terutama tercipta stabilitas
negara (Indonesia) dari segala lini. Selain itu, ingin hidup dengan
tenang, berkecukupan, bisa mengatasi masalah yang datang. Tanpa menelan
korban.
3. Kebutuhan Akan Rasa Memiliki dan Kasih Sayang
Kebutuhan yang berkaitan dengan 'cinta' ini terbingkai dalam ikatan sebuah
pernikahan. Memiliki pasangan idaman (kolaborasi indah dari mencintai dan
dicintai) sebelum usia 30. Hingga kemudian mempunyai anak lucu yang jua
beranjak menjadi generasi ideal dengan kapastitas yang dibutuhkan jaman.
Menjadi kebanggaan dan objek sekaligus subjek dari 'sayang' antar anak dan orang
tua.
4. Kebutuhan Akan Penghargaan
Dihargai dan diakui memang bagian dari kebutuhan, dan itu bisa
direalisasikan melalui prestasi dan pembuktian.
Sebelum mencapai umur berkepala 4, ingin menelurkan setidaknya 7 buku dan
riset yang terpublikasikan.
Melanjutkan studi hingga S3. S2 dalam negeri sembari merawat orang tua yang
telah menapaki usia senja dan menyiapkan amunisi untuk membentuk mental pejuang
yang lebih tangguh lagi untuk menjadi bekal melanjutkan program doktoral.
5. Kebutuhan Akan Aktualisasi Diri
Bisa dikatakan inilah inti dari segala kebutuhan, yang menjadi visi dalam
kehidupan. Bagi saya, adalah bagaimana menjadikan raga dan jiwa ini menjadi
konstelasi yang memiliki nilai guna di luar diri sendiri.
Untuk mewujudkan itu semua tidak dipungkiri, tidak terlepas pula dari
kebutuhan yang berkaitan dengan dana. Sebuah pengalaman yang pernah dengan
telak menimpa keluarga adalah ketika Bapak mendapat ujian yang tak dinyana, kecelakaan,
sehingga harus mengosongkan dana pensiun orang tua dan itu artinya membunuh
atau menunda segala keinginan, termasuk melanjutkan studi dengan dana sendiri.
Pun pernah mengalami bagaimana jatuh bangun usai tragedi gempa Jogja saat
mendadak tak lagi memiliki papan.
Maka selain mimpi, harus diupayakan pula suatu antisipasi, salah satunya dengan asuransi.
Sehingga jika ada
kebutuhan atau tragedi yang tak dinyana menimpa bisa lebih siap menghadapi. Ya, sebagaimana disebutkan di atas bahwa hasrat manusia adalah
ingin mencari rasa aman, dan commlife bisa menjadi jawabannya.





0 komentar:
Posting Komentar